FawaidNasihat

Naungan Tiga Cabang di Hari Kiamat

Ketika kita berbicara tentang kata “naungan” atau tempat berteduh, tentu yang terbayang di benak kita adalah suasana yang sejuk, nyaman, dan menenangkan dari teriknya sengatan matahari. Terlebih lagi kelak di Padang Mahsyar, saat matahari didekatkan ke atas kepala seluruh makhluk hingga jarak yang sangat dekat, setiap manusia pasti sangat mendambakan naungan untuk berlindung.

Akan tetapi, tahukah Anda bahwa di akhirat kelak ada sebuah “naungan” yang justru menjadi wujud azab dan siksaan yang mengerikan? Naungan ini diperuntukkan bagi orang-orang yang mendustakan hari pembalasan.

Allah Ta’ala berfirman di dalam Surah Al-Mursalat ayat 30–31:

﴿انطَلِقُوا إِلَىٰ ظِلٍّ ذِي ثَلَاثِ شُعَبٍ ۝ لَّا ظَلِيلٍ وَلَا يُغْنِي مِنَ اللَّهَبِ﴾

“Pergilah kamu mendapatkan naungan yang mempunyai tiga cabang. Yang tidak melindungi dan tidak pula menolak nyala api neraka.” (QS. Al-Mursalat: 30–31)

Mari kita simak bagaimana Imam Al-Qurthubi rahimahullah menjelaskan ayat yang agung sekaligus menggetarkan hati ini di dalam kitab tafsirnya yang masyhur, Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an.

Hakikat Naungan yang Tidak Melindungi

Imam Al-Qurthubi rahimahullah menjelaskan bahwa kata zhill (naungan) pada ayat di atas bukanlah bayangan teduh sebagaimana yang kita kenal di dunia, melainkan kepulan asap neraka Jahanam. Beliau berkata:

انطلقوا إلى ظل أي دخان ذي ثلاث شعب يعني الدخان الذي يرتفع ثم يتشعب إلى ثلاث شعب . وكذلك شأن الدخان العظيم إذا ارتفع تشعب .

“(Pergilah kamu mendapatkan naungan) maksudnya adalah asap (yang mempunyai tiga cabang), yakni asap yang membubung tinggi kemudian terbagi menjadi tiga cabang. Demikianlah tabiat asap yang sangat besar, apabila ia membubung tinggi maka ia akan terpecah menjadi cabang-cabang.”

Selanjutnya, Allah Ta’ala memupus harapan para pendusta yang mungkin mengira asap tersebut dapat menghalangi panas. Imam Al-Qurthubi melanjutkan penjelasannya:

ثم وصف الظل فقال : لا ظليل أي ليس كالظل الذي يقي حر الشمس ولا يغني من اللهب أي لا يدفع من لهب جهنم شيئا . واللهب ما يعلو على النار إذ اضطرمت ، من أحمر وأصفر وأخضر .

“Kemudian Allah menyifati naungan tersebut dengan firman-Nya: (yang tidak melindungi), maksudnya tidak seperti naungan biasa yang dapat melindungi dari panasnya matahari, (dan tidak pula menolak nyala api neraka), maksudnya tidak dapat menahan jilatan api Jahanam sedikit pun. Al-Lahab (nyala/lidah api) adalah bagian yang membubung di atas api ketika menyala hebat, yang berwarna merah, kuning, dan hijau.”

Kalimat ini merupakan bentuk penghinaan dan celaan bagi orang-orang kafir. Mereka disuruh berteduh di bawah naungan, namun naungan tersebut sama sekali tidak sejuk dan tidak mampu menahan kobaran api neraka.

Makna “Tiga Cabang” Menurut Para Ulama Tafsir

Apa yang dimaksud dengan “tiga cabang” (tsalatsi syu’ab) pada kepulan asap tersebut? Dalam hal ini, para ulama salaf dan ahli tafsir memiliki beberapa pendapat yang dirangkum oleh Imam Al-Qurthubi rahimahullah:

Pertama: Tiga jenis hidangan siksaan di neraka.

وقيل : إن الشعب الثلاث هي الضريع والزقوم والغسلين ؛ قاله الضحاك .

“Dikatakan bahwa tiga cabang tersebut adalah Adh-Dhari’ (pohon berduri), Az-Zaqqum, dan Al-Ghislin (darah/nanah penghuni neraka); ini adalah pendapat Adh-Dhahhak.”

Kedua: Tiga kondisi puncak kobaran api.

وقيل : اللهب ثم الشرر ثم الدخان ؛ لأنها ثلاثة أحوال ، هي غاية أوصاف النار إذا اضطرمت واشتدت .

“Dikatakan bahwa itu adalah lidah api, kemudian percikan/bunga api, kemudian asap; karena ketiganya merupakan tiga keadaan yang menjadi puncak sifat api ketika menyala hebat dan membara.”

Ketiga: Tiga bagian yang menaungi tiga golongan manusia.

وقيل : عنق يخرج من النار فيتشعب ثلاث شعب . فأما النور فيقف على رؤوس المؤمنين ، وأما الدخان فيقف على رؤوس المنافقين ، وأما اللهب الصافي فيقف على رؤوس الكافرين .

“Dikatakan bahwa itu adalah leher (gulungan) yang keluar dari neraka lalu terbagi menjadi tiga cabang. Adapun bagian cahayanya berhenti di atas kepala orang-orang mukmin, bagian asapnya berhenti di atas kepala orang-orang munafik, dan bagian lidah api murninya berhenti di atas kepala orang-orang kafir.”

Keempat: Gejolak dinding api (As-Suradiq) saat proses hisab.

وقيل : هو السرادق ، وهو لسان من نار يحيط بهم ، ثم يتشعب منه ثلاث شعب ، فتظللهم حتى يفرغ من حسابهم إلى النار .

“Dikatakan bahwa itu adalah As-Suradiq, yaitu lidah api yang mengepung mereka, kemudian darinya terbagi menjadi tiga cabang yang menaungi mereka hingga selesai perhitungan amal (hisab) mereka menuju neraka.”

Kelima: Naungan dari asap hitam pekat (Yahmum).

وقيل : هو الظل من يحموم ؛ كما قال تعالى : ﴿فِي سَمُومٍ وَحَمِيمٍ ۝ وَظِلٍّ مِّن يَحْمُومٍ ۝ لَّا بَارِدٍ وَلَا كَرِيمٍ﴾ على ما تقدم .

“Dikatakan bahwa itu adalah naungan dari Yahmum (asap hitam pekat); sebagaimana firman Allah Ta’ala: (Dalam siksaan angin yang amat panas dan air yang mendidih, dan dalam naungan asap yang hitam. Tidak sejuk dan tidak menyenangkan — QS. Al-Waqi’ah: 42–44), sebagaimana penjelasan yang telah lalu.”

Perbedaan Nasib Hamba yang Beriman dan Para Pendusta di Padang Mahsyar

Bagian penutup dari penjelasan Imam Al-Qurthubi ini sangat layak untuk kita renungkan bersama. Beliau memaparkan betapa jauhnya perbedaan nasib antara wali-wali Allah (orang-orang yang beriman dan bertakwa) dengan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat-Nya ketika matahari didekatkan di Padang Mahsyar.

Beliau membawakan sebuah riwayat hadis:

وفي الحديث : ” إن الشمس تدنو من رؤوس الخلائق وليس عليهم يومئذ لباس ولا لهم أكفان فتلحقهم الشمس وتأخذ بأنفاسهم ومد ذلك اليوم ، ثم ينجي الله برحمته من يشاء إلى ظل من ظله فهنالك يقولون : فمن الله علينا ووقانا عذاب السموم “

“Disebutkan di dalam hadis: ‘Sesungguhnya matahari akan mendekat ke atas kepala seluruh makhluk, sedangkan pada hari itu mereka tidak mengenakan pakaian dan tidak pula memiliki kain kafan. Maka panas matahari menyengat mereka dan menyesakkan napas mereka, ditambah lagi dengan lamanya hari itu. Kemudian Allah dengan rahmat-Nya menyelamatkan siapa saja yang Dia kehendaki menuju naungan dari naungan-Nya. Di sanalah mereka berkata: Maka Allah memberikan karunia kepada kami dan memelihara kami dari azab neraka/angin yang sangat panas (QS. Ath-Thur: 27).’”

Kemudian Imam Al-Qurthubi rahimahullah menyimpulkan kondisi kedua golongan tersebut:

ويقال للمكذبين : انطلقوا إلى ما كنتم به تكذبون من عذاب الله وعقابه انطلقوا إلى ظل ذي ثلاث شعب فيكون أولياء الله – جل ثناؤه – في ظل عرشه أو حيث شاء من الظل ، إلى أن يفرغ من الحساب ثم يؤمر بكل فريق إلى مستقره من الجنة والنار .

“Dan dikatakan kepada orang-orang yang mendustakan: ‘Pergilah kalian menuju apa yang dahulu kalian dustakan berupa azab dan siksaan Allah! Pergilah kalian menuju naungan yang mempunyai tiga cabang!’ Maka para wali Allah —Jalla Tsana’uhu (yang Maha Agung pujian-Nya)— berada di bawah naungan Arsy-Nya atau di naungan mana saja yang Dia kehendaki, hingga selesai proses hisab (perhitungan amal), kemudian setiap golongan diperintahkan menuju tempat tinggal tetapnya, baik di surga maupun di neraka.”

Penutup

Demikianlah perbandingan yang sangat nyata antara dua tempat berteduh di hari kiamat kelak. Di satu sisi, ada hamba-hamba pilihan yang mendapatkan rahmat Allah sehingga mereka berteduh dengan tenang di bawah naungan Arsy-Nya. Di sisi lain, ada orang-orang yang semasa hidupnya mendustakan kebenaran, sehingga mereka digiring menuju “naungan” asap neraka yang bercabang tiga, yang panas menyengat dan penuh siksaan.

Semoga Allah Ta’ala senantiasa memberikan taufik kepada kita semua untuk istikamah di atas keimanan dan ketaatan, serta mengumpulkan kita bersama hamba-hamba-Nya yang mendapatkan naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan selain naungan-Nya. Wallahu Ta’ala a’lam.

Referensi:

  • Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an (Tafsir Al-Qurthubi), karya Imam Abu ‘Abdillah Muhammad bin Ahmad Al-Anshari Al-Qurthubi rahimahullah (Tafsir Surah Al-Mursalat ayat 30–31).

Depok, 8 Jumadil Awwal 1448H/19 Oktober 2026

Zia Abdurrofi

Alumnus Ma'had Aly Ulun Nuha Medan (Takhassus Bahasa Arab) dan Ma'had Minhajus Sunnah Bogor (4 tahun). Saat ini, aktif sebagai mahasiswa Jurusan Syari'ah di LIPIA Jakarta.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button