Kisah

Duduklah! Kan ku Ajarkan Padamu Ilmunya Sa’id

Kisah ini hadir dari seorang ulama tabi’in. Sebutlah ia Sa’id bin Al Musayyib rahimahullahu ta’ala menantu dari sahabat Abu Hurairoh radiyallahu ‘anhu.  Harum namanya tersohor keilmuannya. Beliau disebut sebagai Qubbatul Madinah (kubahnya madinah) yakni Ulamanya kota madinah pada saat tersebut.
Beliau memiliki seorang putri yang sangat shaalihah.

Kita ayunkan kisah ini disaat sang khalifah yang bernama Abdul Malik bin Marwan meminta agar putri beliau di persuntingkan bersama salah satu dari anak beliau yang tentu gelar yang tersemat padanya adalah “Pangeran Kerajaan”.

Namun ternyata , Sa’id bin Al Musayyib pun enggan untuk menerima tawaran tersebut. Dan tidak ada satupun yang berhasil untuk mempersunting anak ulamanya kota madinah.

Suatu hari…Tatkala beliau sedang duduk bermajelis…Di perhatikan satu persatu dari murid murid beliau yang hadir..Beliau pun kehilangan murid terdekatnya,
kemanakah gerangan? Sudah beberapa hari ia tidak terlihat di majelis.

Murid beliau adalah Ibnu Abi Wadaa’ah seorang yang sangat miskin. Tidak memiliki apa apa , saking miskinnya acapkali ditemukan beliau memungut makanan dari tempat sampah.Lalu, Kemanakah gerangan beliau?

Ibnu Abi Wadaa’ah terluput dari majelis sang guru dikarenakan baru saja beliau berkabung duka berselimut kesedihan dikarenakan istri tercinta beliau baru saja wafat. Beliau pun beralasan dihadapan sang guru , bahwa kesibukan dalam mengurus jenazah sang istri membuatnya lalai dari majelis ilmu yang di emban oleh sang guru.

Sa’id pun bertanya kepada muridnya: Apakah engkau telah mendapatkan istri yang baru?Dengan memelas muridnya pun menjawab: Semoga Allah merahmatimu, siapa yang ingin menikahkan anaknya denganku? Sedangkan aku tak memiliki kecuali dua sampai tiga dirham saja.Berkata sang guru dengan lugas: Aku! (yang akan menikahkanmu).

Berlalulah majelis tersebut , ditutup dengan memuji nama Allah ta’alaa. Pulanglah Ibnu Abi Wadaa’ah ke rumahnya. Begitu senang tatkala beliau mendengar ucapan yang terlantun dari sang guru tadi. Beriringan dengan kesenangan yang ia rasakan. Iapun memikirkan kepada siapakah ia akan meminjam uang untuk mengadakan pernikahan tersebut.
Ibnu Abi Wadaa’ah pun kembali berkisah, Akupun bergegas untuk sholat maghrib di masjid terlebih dahulu , setelah itu aku pulang kerumah dan berisitirahat. Tidak lupa akupun berbuka puasa dengan sepotong roti dan minyak zaitun.

Haripun kian gelap…Daan..Terdengar suara ketukan pintu. Siapa ??? sahutku.Sa’id , Jawab sang pengetuk.
Kemudian terlintas lah semua Sa’id yang pernah aku kenal selama aku hidup didalam hatiku.  Kecuali Sa’id bin Al Musayyib. Sangat tidak mungkin rasanya kalau diluar adalah guruku sendiri. Dikarenakan selama empat puluh tahun lamanya, beliau tak pernah singgah ke tempat yang lain melainkan hanya sebatas rumah dan masjid saja.

Aku pun bergegas beranjak menghampirinya.Dan ternyata … Ia adalah  guruku , Sa’id bin Al Musayyib ia datang sekaligus bersama sang putri berada dibelakangnya. Sa’id pun berkata kepadaku : Engkau adalah orang yang tidak memiliki kekasih. Maka aku tidak suka melihat dirimu menghabiskan malam malam dalam keadaan sendiri. Ini dia istrimu. (kemudian ditariklah tangan dari putri beliau kemudian beliau dorong ia kearah pintu. Sehingga sang putri pun tersungkur jatuh dikarenakan sifat malu yang ia miliki). Akhirnya Ibnu Abi Wadaa’ah pun menikah dengan putri sang guru Sa’id bin Al Musayyib.

((Perlu diketahui , tatkala Sa’id bin Al Musayyib menolak anak dari khaalifah untuk mempersunting putrinya. Beliau mendapatkan hukuman dari khaalifah yang sangat keras. Dan disebutkan hukuman ini bermacam macam , ada yang mengatakan di cambuk seratus pecutan di saat musim dingin. Ada juga yang mengatakan di rendem di es batu . dan masih ada beberapa pendapat lagi))

Singkat ceritaa…Setelah beberapa lama Ibnu Abi Wadaa’ah tidak menghadiri halaqoh atau majelis ilmu sang guru yakni Sa’id bin Al Musayyib. Ia pun ingin kembali untuk menghadiri majelis gurunya. Seperti hal nya mungkin seorang suami yang meminta izin kepada istrinya. 

Ya, Ibnu Abi Wadaa’ah pun meminta izin untuk kembali menghadiri majelis ilmu dari guru tercintanya sekaligus yang saat ini sudah sah menjabat menjadi mertuanya. Daaannnn… Istrinya pun dengan tegas berkata..

اِجْلِسْ أُعَلِّمُكَ عِلْمَ سَعِيْدٍ

“Duduklah , kanku ajarkan padamu Ilmunya Sa’id.”

‘Ibroh yang bisa dipetik dari kisah ini :

– Kekayaan bukanlah segalanya.

– Orang yang paling mulia adalah orang yang paling bertakwa.

– Tatkala harta berhadapan dengan ‘ilmu , maka pemilik ‘ilmu tak boleh tunduk kepada pemilik harta.

– ‘Ilmu membuat seseorang berjalan diatas ketenangan hati.

– Salah satu yang dianjurkan dalam islam adalah menawarkan anak/sodari perempuan untuk dinikahi oleh orang yang kita percayai kesholehan agama dan akhlaqnya.

– Bolehnya menolak pinangan seseorang tatkala memang tidak cocok dengan apa yang kita inginkan.

– Laki laki yang baik akan dipertemukan dengan wanita yang baik. Dan sebaliknya.

– Perkataan anak perempuan Sa’id bin Al Musayyib di akhir kisah , menunjukkan akan luasnya ‘ilmu yang dimiliki oleh anaknya. Sehingga seorang laki laki yang baru menjadi suaminya pun diprintahkan untuk duduk dihadapannya belajar ‘ilmu yang sesuai dengan ‘ilmu yang bapaknya miliki.

– Bagi seorang laki laki , hendaknya jangan malu untuk belajar. Walau kepada istrinya sendiri. Karena keberkahan ‘ilmu datang dari siapa saja.

– Bagi seorang wanita , jangan pernah menyerah untuk memberikan nasihat atau wejangan kepada suami. Karena betapa banyak laki laki yang tunduk tersipuh dihadapan tangan tangan para wanita. Yang dengan itu akhirnya mereka sadar dan kembali kepada Allah Ta’ala.

Dan masih banyak lagi ‘Ibroh / pelajaran yang bisa dipetik dari kisah ini , Wallahu’alam.

Wabillahit Taufiq
Zia ‘Abdurrofi’
Makassar-Selasa,2 Dzulqo’dah 1441H/23 Juni 2020
———————-

Referensi : 
– Beberapa muhadhoroh asatidz dan masyaikh. 
– Website http://ahlalhdeeth.com (Dengan sedikit perubahan bahasa)

Zia Abdurrofi

Alumnus Ma'had Aly Ulun Nuha Medan (Takhassus Bahasa Arab) dan Ma'had Minhajus Sunnah Bogor (4 tahun). Saat ini, aktif sebagai mahasiswa Jurusan Syari'ah di LIPIA Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button