
Ditengah banyaknya distraksi-distraksi yang bermunculan dari berbagai kelalaian yang ada di zaman ini, menunda menjadi pilihan sebagian dari kita daripada mengerjakan sesuatu yang lebih bermanfaat. Yang seharusnya pekerjaan tertentu dapat dituntaskan, akan tetapi karena menundanya, pekerjaan tersebut tidak pernah dapat diselesaikan. Bayangkan, yang seharusnya kita bisa mengerjakan banyak pekerjaan, membaca beberapa buku para ulama, menghafal sekian banyak perkataan yang Mulia yang keluar dari lisan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena disebabkan menunda, kita terluput dari kebaikan yang sangat banyak.
Alangkah baiknya, ketika kita ingin membahas suatu pembahasan, hendaknya dimulai dari pengertiannya terlebih dahulu, dimulai dari secara bahasa(Linguistik) kemudian secara istilah(Terminologi).
Menunda (At-Taswiif) secara bahasa yaitu At-Ta’khiir (Mengakhirkan suatu pekerjaan) atau Al-Mudaafa’ah (Menolak untuk melakukan suatu pekerjaan pada saat itu). Dan secara istilah yaitu :
أن يأمل العبد أن يقضي ذلك الأمر بعد حين
“Seorang hamba yang berangan-angan untuk melakukan suatu pekerjaan setelah beberapa waktu (yaitu:menundanya)”.
Kebanyakan dari kita tidak mengetahui bahwa menunda (At-Taswiif) termasuk penyakit yang sangat berbahaya. Bagaimana tidak, seseorang yang seharusnya bisa melakukan kebaikan yang sangat banyak, akan tetapi dia menundanya karena alasan yang sepele, dia menunda membaca Al-Quran karena lebih memilih untuk main game, dia menunda membaca buku karena lebih memilih untuk scrolling instagram, dia menunda berbakti kepada orang tua, karena sibuk dengan circle pertemannya.
Maka yakinilah diri kita, bahwasanya menunda adalah suatu penyakit yang sangat membahayakan, yang harus dicampakkan sejauh-jauhnya. Bahkan, sebagian para salaf mengatakan :
التسويف من جنود إبليس
“Menunda-nunda adalah bagian dari tentara-tentara iblis”.
Perkataan ini menunjukkan betapa besarnya efek samping dari menunda amalan. Karenanya, yang seharusnya kita bisa mendapatkan kebaikan yang sangat banyak, akan tetapi terhalang dari kebaikan tersebut.
Dan kita tidak mengetahui, apakah kita ketika menunda suatu amalan, dijamin akan melakukannya nanti?. Ada perkataan yang mengetuk hati dari seorang penyair, dia berkata :
لا ترج عمل اليوم إلى الغد لعل غدا يأتي وأنت فقيد
“Jangan-lah anda menunda amalan pada hari ini ke esok hari, Mungkin esok hari akan datang sedangkan anda tiada”.
Kadang kita merasa waktu masih panjang, seolah besok selalu siap menunggu. Kita katakan nanti… nanti… dan nanti. Padahal, tidak ada satu pun dari kita yang benar-benar dijanjikan hari esok.
Jangan menunda, lakukan sekarang, meski kecil, meski sederhana. Sebab amalan kecil bisa menjadi besar karena niatnya, demikian sebaliknya.
Al-Imam Ibnul Mubarak rahimahullah berkata:
رب عمل صغير تعظمه النية ورب عمل كبير تصغره النية
“Betapa banyak amalan kecil yang menjadi besar karena niatnya, dan betapa banyak amalan besar yang menjadi kecil karena niatnya.”
Dan mengerjakan sedikit demi sedikit, akan terasa lebih ringan dari pada mengerjakan sekaligus. Dari konsep inilah allah menurunkan Al-Quran kepada nabinya, yaitu secara berangsur-angsur. Dan hal ini lebih melepaskan beban dari pundak, menenangkan hati serta mendapatkan cintanya allah, allah mencintai hamba yang mengerjakan amalan secara kontinu(berkesinambungan) walaupun sedikit, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda :
أحب الأعمال إلى الله أدومها وإن قل
“Amalan yang paling dicintai oleh allah adalah yang kontinu (berkesinambungan) walaupun sedikit”.
Kerjakanlah walaupun sedikit, hari ini adalah kesempatan. Jika ia berlalu, belum tentu ia kembali.
Allahul mustaan.
Hamba yang butuh ampunan-Nya : Abdullah Al-Fauzan




