
Telah menjadi hal yang diketahui bersama bahwa menuntut ilmu agama adalah hal yang diwajibkan dan ditekankan dalam agama kita (agama islam). Dan hal ini lebih ditekankan lagi terutama di saat kita berada di masa muda. Mengingat masa muda adalah masa yang penuh kekuatan. Demikianlah yang Allah sifati dalam Al Qur’an. Allah berfirman :
اَللّٰهُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَّشَيْبَةً
“Allah adalah Zat yang menciptakanmu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan(-mu) kuat setelah keadaan lemah. Lalu, Dia menjadikan(-mu) lemah (kembali) setelah keadaan kuat dan beruban.” [Ar Rum : 54]
Allah firmankan bahwa masa muda adalah masa yang kuat. Masa yang amat mudah untuk mengingat dan mempelajari segala hal. Kiranya hal ini terbukti pada diri kita masing-masing bahwa ketika kita kecil lebih kuat menghafal dan merekam segala hal dibandingkan masa-masa dewasa.
Telah ma’ruf kisah Amr bin Abi Salamah, beliau mengisahkan :
عَنْ عَمْرَ بنِ أَبِي سَلَمَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: كُنْتُ غُلَامًا فِيْ حِجْرِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَكَانَتْ يَدِي تَطِيْشُ فِيْ الصَّحْفَةِ، فَقَالَ لِي رَسُولُ اللهِ صَلَّى الله عليه وسلم: ((يا غلام، سمِّ اللهَ، وكُلْ بيمينك، وكُلْ مما يليك))، فما زالت تلك طُعمتي بعد؛
Dari Amr bin Abi Salamah radiyallahu ‘anhu ia berkata : “Ketika aku kecil berada di bawah asuhan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ketika (makan) tanganku kemana-mana di tempat makan itu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada ku : “Wahai anak, sebutlah nama Allah dan makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah dari yang terdekat darimu.” Amr berkata : “Setelah itu aku tidak pernah lagi mengulangnya.” (Muttafaqun Alaih)
Hal ini tidak hilang dari ingatan beliau sampai beliau beranjak dewasa bahkan tua. Dan masih banyak lagi contoh yang lainnya. Karenanya, Al Hasan Al Bashri rahimahullah pernah berkata :
العِلْمُ فِي الصِّغَرِ كَالنَّقْشِ فِي الحَجَرِ
“Menuntut ilmu ketika masih kecil itu seolah mengukir di atas batu.”
Syaikh Shaalih Al ‘Ushaimi hafidzahullah mengomentari perkataan di atas dengan mengatakan :
فَقُوَّةُ بَقَاءِ العِلْمِ فِي الصِّغَرِ كَقُوَّةِ بَقَاءِ النَّقْشِ فِي الحَجَرِ فَمِنِ اغْتَمَّ شَبَابَهُ نَالَ إِرْبَهُ وَحَمِدَ عِنْدَ مَشِيْبِهِ سُرَّاهُ
“Maka kekuatan lekatnya ilmu ketika masa kecil seperti kekuatan lekatnya ukiran di batu. Maka siapa yang memanfaatkan masa mudanya ia akan meraih cita-citanya dan ia akan dipuji di masa tuanya dengan berhasilnya meraih cita-citanya.” (Lihat : Khulashoh Ta’dzimul Ilmi Hal 24)
Dalam sebuah syair juga di katakan:
اِغْتَنِمْ سِنَّ الشَّبَابَ يَا فَتَى
عِنْدَ المَشِيْبِ يُحْمَدُ القَوْمُ السُّرَى
“Manfaatkanlah usia muda mu wahai anak muda ! Seseorang akan dipuji di masa tuanya ketika ia berhasil meraih cita-citanya.”
Manfaatkanlah masa mudamu! Jika memang engkau ingin beristirahat nanti di masa tuamu !
مَنْ أَرَادَ أَنْ يَسْتَرِيْحَ وَقْتَ مَشِيْبِهِ فَلْيَجْتَهِدْ وَقْتَ شَبَابِهِ
“Siapa yang ingin beristirahat di masa ia beruban (masa tuanya) maka hendaknya ia bersungguh-sungguh ketika masa mudanya.”
Manfaatkanlah masa muda mu! Toh masa muda tidak berjalan lama. Imam Ahmad rahimahullah berkata :
مَا شَبَّهْتُ الشَّبَابَ إِلاَّ بِشَيْءٍ كَانَ فِيْ كُمِّي فَسَقَطَ
“Tidaklah aku mengumpamakan pemuda melainkan pemuda itu seperti sesuatu yang ada di lengan bajuku, kemudian ia pun jatuh.”
Artinya, sesuatu yang ada dilengan baju itu tidak lama adanya. Ia akan hilang dan terjatuh. Begitupun masa muda, masa muda ini tidak berjalan lama. Ia akan cepat berlalu, lalu masa muda itu pun akan hilang dan digantikan dengan masa tua.
Karenanya, jangan sampai kita mengucapkan sebagaimana ucapan orang-orang yang telah beruban. Mereka berucap dengan penuh penyesalan.
أَلَا لَيْتَ الشَّبَابَ يَعُوْدُ يَوْمًا
فَأُخْبِرُهُ بِمَا فَعَلَ المَشِيْبُ
“Aduhai andaikata waktu muda bisa diulang walau hanya sehari
Niscaya aku akan kabarkan kepada (anak muda) apa yang di rasakan oleh orang beruban.”
Wabillahittaufiq,
Zia Abdurrofi
Bogor, 17 Shafar 1444/14 September 2022



