Nasihat

Mengamalkan Ilmu

Berkata Al Imam Ibnul Jauziy rahimahullah (wafat th.597 H) :

المِسْكِيْنُ كُلّ المِسْكِيْنِ مَنْ ضَاعَ عُمْرَهُ فِيْ عِلْمٍ لَمْ يَعْمَلْ بِهِ فَفَاتَهُ لَذَّات الدُّنْيَا وَخَيْرَاتِ الآخِرَةِ

“Betapa kasiannya orang yang usianya habis bergelut dengan ilmu namun ia tidak amalkan. Lenyap baginya keledzatan dunia, lenyap pula baginya segala kebaikan kebaikan akhirat.[1]

Fawaaid :

1. Wajib menuntut ilmu dimanapun dan kapanpun.

2. Wajib mengamalkan ilmu sesuai dengan kemampuan kita.

3. Sebagian orang berkeyakinan bahwa kalau mereka semakin tahu akan ilmu kemudian tidak diamalkan maka ini akan menjadi boomerang bagi mereka. Sehingga dengan ini mereka beralasan untuk tidak menuntut ilmu. Maka ini adalah sebuah kekeliruan. Kalau ia tidak menuntut ilmu karena takut menjadi boomerang , maka dengan ia tidak menuntut ilmu justru dosanya dua kali lipat. Tidak mencoba untuk mengetahui dan tidak mengamalkannya.

4. Asy Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahhab rahimahullah (wafat th. 1206H) menyebutkan di dalam kitabnya “Nawaqidul Islam (Pembatal Keislaman)” di poin yang ke 10 di antara pembatal keislaman yaitu “Berpaling dari agama Allah, tidak mempelajarinya dan tidak mengamalkannya.”

5. Lenyap baginya kelezatan dunia maksudnya adalah , karena saking sibuknya dengan ilmu dan tidak sempat merasakan nikmatnya dunia. Atau ia tak bisa merasakan nikmatnya dunia yang bernama ibadah.

6. Lenyap baginya kebaikan akhirat maksudnya adalah , disebabkan ia tidak mengamalkan ilmu yang ia pelajari maka ia termasuk orang yang merugi karena tidak mendapatkan kebaikan akhirat.

7. Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk mengamalkan sesuatu sesuai dengan kemampuan kita dan ini berlaku untuk seluruh amalan amalan kebaikan di dalam syari’at islam. Namun tidak dengan larangan , adapun larangan Allah melarang kita untuk menjauhkan sesuatu maka wajib bagi kita untuk segera menjauhkannya. Adapun ketaatan maka kita lakukan semampu kita. Sehingga kita di tuntut untuk melakukan sesuai dengan kemampuan untuk sebuah ketaatan. Dan meninggalkannya dengan segera untuk sebuah larangan .

8. Tatkala ilmu terus di pelajari perlahan lahan. Maka ilmu itu akan memanggil amalan agar amalan menjawab permintaan ilmu itu untuk di amalkan. Kalau tidak di gubris (di jawab) oleh amalan itu maka ilmu itu akan pergi meninggalkan pemiliknya[2]. Sehingga ilmu itulah yang akan mengajarkan kita bagaimana caranya untuk beramal.
Wabillahit Taufiq.

Zia ‘Abdurrofi’Makassar, 20 Juni 2020


[1] Lihat faidah ini dikitab Shayyidul Khootir Hal 44 dan ‘Awaiq Ath Tholab  Hal 16[2] Ini adalah perkataan Ali Bin Abi Thalib radyiallahu ‘Anhu. Lihat kitab Ma’aalim Fi Thoriqi Tholabil ‘Ilmi karya Syaikh Dr.Abdul ‘Aziz As Sadhan hafidzahullah. dan kitab Hilyah Thalibil ‘Ilmi karya Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahullahu (wafat th.1429H)

Zia Abdurrofi

Alumnus Ma'had Aly Ulun Nuha Medan (Takhassus Bahasa Arab) dan Ma'had Minhajus Sunnah Bogor (4 tahun). Saat ini, aktif sebagai mahasiswa Jurusan Syari'ah di LIPIA Jakarta.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button