
Telah ma’ruf di telinga kita bahwa di antara eksistensinya agama ini adalah nasihat. Nasihat seolah kata yang terus digaungkan, mudah untuk dilantunkan namun sulit untuk diterima, mudah untuk dikatakan namun sulit untuk didengar.
Demikianlah realita yang tak pernah berdusta. Banyak orang yang menjadikan gelar pemberi nasihat sebagai hobinya, namun ia tinggalkan gelar menerima nasihat sebagai hobinya. Padahal, hal yang terbaik adalah ketika keduanya berjalan selaras. Allah Ta’ala Berfirman :
وَالْعَصْرِۙ (١) اِنَّ الْاِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍۙ (٢) اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ ەۙ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (٣)
“Demi masa, sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” [QS : Al ‘Ashr : 1-3)
Difirmankan, saling menasihati untuk kebenaran dan kesabaran. Maka dari sini kita saling menasihati saudara kita untuk beriman dan beramal shaalih dan memotivasi mereka untuk hal itu. (Lihat Tafsir As Sa’di rahimahullah).
Selain daripada itu, kita pun saling membenarkan kesalahan yang terjadi pada saudara kita. Tatkala kita melihat saudara kita berada di atas kekeliruan ataupun kesalahan sudah seharusnya kita luruskan dan kita tegur dengan cara yang terbaik. Nabi kita yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam :
مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ
“Barangsiapa di antara kamu melihat kemungkaran hendaklah ia mencegah kemungkaran itu dengan tangannya. jika tidak mampu, hendaklah mencegahnya dengan lisan, jika tidak mampu juga, hendaklah ia mencegahnya dengan hatinya. Itulah selemah-lemah iman.” (Shahih Muslim : 70)
Janganlah lepaskan diri kita dari menerima nasihat. Begitupun jangan lepaskan diri kita dari menasihati orang yang keliru di hadapan kita. Hendaknya itu semua dilakukan dengan ikhlas dari dalam hati dan dengan cara yang penuh dengan lemah lembut.
Hal ini begitu penting terutama bagi para thalibul ilmi, kata bosan dalam menerima nasihat hendaknya dijauhkan dari kamus hidupnya, Karena hakikatnya kita bukanlah malaikat yang terliputi dengan kesempurnaan dan ketaatan. Sehingga nasihat sangat dibutuhkan bagi kita semua karena kita bukanlah malaikat.
Maka bagimu yang ingin menasihati saudaramu, perhatikanlah hal berikut :
1. Jadikanlah pendorong untuk melakukan nasihat adalah sebab kecintaanmu kepada saudaramu, dan ketidak relaanmu ketika melihat saudaramu terjatuh kedalam keburukan.
2. Hendaknya nasihat dilandaskan dengan ilmu dan hujjah yang kuat.
3. Hendaknya nasihat dilakukan dengan cara sembunyi-sembunyi dan tidak terang-terangan kecuali adanya maslahat yang kuat.
4. Memilih kata-kata ataupun kalimat-kalimat yang bagus.
5. Memilih waktu yang pas untuk menasihati.
6. Orang yang menasihati hendaknya bersabar terhadap hal-hal yang ia dapati berupa cemoohoan, gangguan dan sejenisnya.
Dan masih banyak lagi yang harus diperhatikan oleh orang yang menasihati. (Dinukil dari website : Islamqa.info -dengan sedikit perubahan-)
Begitupun untukmu yang telah berusaha untuk menasihati saudaramu dengan segala cara, namun saudaramu tak kunjung ingin berubah dan mendengarkan nasihatmu. Bersabarlah ! Ingatlah pahala yang engkau akan segera tuai atas perbuatan baik yang telah engkau lakukan.
Dikatakan dalam sebuah perkataan :
قُلْ كَلِمَةً وَامْشِ !
“Ucapkanlah sebuah perkataan (kebenaran) dan berjalanlah (hiraukanlah) !”
Dan untukmu yang dinasihati oleh saudaramu :
1. Perhatikanlah nasihat yang dilantunkan oleh saudaramu, jika memang benar maka terimalah nasihat itu.
2. Tanamkanlah dalam benakmu, tidak ada kata sulit dalam menerima nasihat. Karena inilah asas dari ajaran agama kita.
3. Jangan terlalu baper dalam menerima nasihat, yang demikian itu akan menutup pintu-pintu kebaikan.
4. Setelah engkau menerima nasihat, rubahlah sebisa mungkin apa yang keliru dari dirimu.
Wallahu’alaam.
Zia Abdurrofi
Yogyakarta, 5 Mei 2022




