
Penyakit kronis yang dialami oleh banyak orang, adalah suudzon. Penyakit yang terpendam dalam hati awal kalinya. Namun ia bisa merambat menggerogoti pribadi seseorang, jadilah pribadinya memiliki akhlaq yang buruk karena terbias dari suudzon ini.
Alih demi alih dirangkai, “Kita ga boleh husnudzon sama orang, kita harus suudzon.” Demikianlah perkataan mereka yang menjadikan suudzon sebagai prinsip dasarnya tuk menilai seseorang. Mungkin karena trauma yang menghantuinya atau kehati hatian yang terlalu keterlaluan. Bagus secara tidak langsung untuk kehati hatian. Namun konteks ini kurang tepat jika diarahkan kepada saudara sesama muslim seorang yang beriman.
Sejenak kita kritisi prinsip ini. Memang, tak dipungkiri suudzon bisa terjadi pada diri seseorang. Bisa karena adanya permusuhan, sehingga tersebar lah kabar kabar yang membuat suudzon, bisa pula karena kilauan masa lalu yang kelam. Ketika ia melihat gerak gerik seseorang yang mungkin sama dengan masa lalunya, ia langsung menjudge bahwa pasti ia akan melakukan hal yang sama. Dikatakan dalam sebuah sya’ir :
إِذا ساء فعل المرء ساءت ظنونه
“Jika perbuatan seseorang itu buruk, ia akan mudah untuk suudzon (kepada orang lain).”
Karena yang ada dalam benaknya orang itu pasti akan sama seperti dia. Hal ini tidak muncul melainkan karena buruknya perbuatan yang ia lakukan atau pengalaman yang ia dapatkan. Padahal, tak demikian adanya. Jangan pukul ratakan kesalahan mu dengan orang lain jangan pukul ratakan pengalaman mu dengan orang lain, tidak mesti sama akibat yang engkau lakukan dengan yang orang lain lakukan .
Mengapa harus suudzon ?
Bukan kah Allah telah mewanti wanti kita agar kita tidak berlaku suudzon?
Simaklah firman Allah Ta’ala :
یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ ٱجۡتَنِبُوا۟ كَثِیرࣰا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعۡضَ ٱلظَّنِّ إِثۡمࣱۖ وَلَا تَجَسَّسُوا۟ وَلَا یَغۡتَب بَّعۡضُكُم بَعۡضًاۚ أَیُحِبُّ أَحَدُكُمۡ أَن یَأۡكُلَ لَحۡمَ أَخِیهِ مَیۡتࣰا فَكَرِهۡتُمُوهُۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ تَوَّابࣱ رَّحِیمࣱ
“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada di antara kamu menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentulah kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, Sungguh, Allah Maha Penerima taubat, Maha Penyayang.” [Surat Al-Hujurat 12]
Pada ayat ini Allaah mengurutkan antara tiga dosa yaitu, suudzon, tajassus, dan ghibah. Tiga serangkai yang amat kuat dan sulit dipisahkan. Seseorang ketika dia suudzon maka pasti dia akan tajassus (mencari cari kesalahan). Ketika ia sudah mendapatkan kesalahan santapan selanjutnya adalah ghibah. Inilah tiga serangkai yang sulit dipisahkan. Asy Syaikh Abdurrohman bin Nashir As Sa’di dalam kitab Tafsirnya menafsirkan ayat di atas “Sungguh, bercokolnya suudzon dalam hati seseorang tidak akan mampu mengenyangkannya. Ia akan terus menerus untuk mengatakan dan mengerjakan apa yang tidak harusnya dikatakan dan dikerjakan (ghibah dan tajassus)”. (Lihat Taisirul Karimirrahman Fi Tafsiri Kalaamil Mannaan)
Bayangkan!! Betapa lelahnya orang yang berbuat dosa ini!!
Ketika ia berbuat suudzon hatinya lelah untuk memikirkan orang lain, “Jangan jangan dia gini jangan jangan dia gitu”. Dan inilah sedusta dusta ucapan. Nabi shalallahu alaihi wa sallam bersabda :
إيَّاكُمْ والظَّنَّ، فإنَّ الظَّنَّ أكْذَبُ الحَديثِ
“Jauhilah oleh kalian suudzon, karena sesungguhnya suudzon sedusta dusta ucapan.” (Hadits Riwayat Bukhori No.6724) .
Dikatakan sedusta dusta ucapan karena terjadinya dusta pada suudzon itu lebih banyak ketimbang dusta dalam ucapan. (Lihat kitab Husnudzon Bin Nass karya Syaikh Abdul Malik Romadhoni Hal : 25)
Setelah suudzon lahirlah tajassus untuk memastikan apa yang dia sangkakan, mulailah ia memperhatikan segala gerak gerik orang itu. Dalam teks setelah hadits diatas, Nabi Shalallahu alaihi wa sallam bersabda:
ولا تَجَسَّسُوا
“Janganlah kalian tajassus”.
Setelah tajassus lahirlah ghibah (membicarakan tentang orang lain dibelakang yang ia tidak suka untuk dibicarakan).
Lihatlah dampak dosa yang terlahir dari suudzon, terlahirlah dosa dosa yang lain. Saudaraku, sungguh kehormatan seorang muslim amatlah agung. Bahkan lebih agung dari Ka’bah. Suatu hari Nabi Shalallahu alaihi wa sallam memandang ke arah Ka’bah seraya bersabda :
ما أعظمك وأعظم حُرْمَتك، ولَلْمؤمن أعظم حُرْمَة عند الله منكِ
“Betapa agungnya dirimu (wahai Ka’bah) dan betapa agungnya kehormatanmu. Dan orang yang beriman ia memiliki kehormatan yang lebih besar daripada dirimu”. (Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah No.3420)
Saudaraku, hati-hatilah terhadap suudzon !! Karena terlalu banyak kerusakan yang dihasilkan darinya. Bayangkan ! Karena sebab suudzon ini, seorang yang dicuri itu bisa jadi lebih buruk dari pada yang mencuri. Sebuah atsar dari sahabat Abdullah bin Mas’ud radiyallahu ‘anhu, beliau berkata :
ما يزال المسروق منه يتظنى حتى يصير أعظم من السارق
“Orang yang dicuri senantiasa berperasangka buruk (kepada yang mencuri) sehingga dosanya bisa lebih besar daripada orang yang mencuri.” (Lihat Al Adabul Mufrod No: 1289)
Hal diatas terjadi ketika seorang yang dicuri memikirkan siapa yang mencuri, sehingga ia pun curiga terhadap banyak orang tak terkecuali mereka yang terkenal shaalih. Ia menuduh dengan mudahnya. Sehingga dosanya menjadi lebih besar daripada yang mencuri.
Sudahlah, hentikan suudzon mu. Apa susahnya engkau berhusnudzon kepada saudaramu ?
Mudah-mudahan bermanfaat.
Bogor, 2 September 2022
Zia Abdurrofi




