Nasihat

Jangan Sia-Siakan Dirimu

Al Imam Al Bukhori rahimahullah (wafat th.256H) dalam kitab Shahihnya membuat bab dalam Kitabul ‘Ilmi dengan Judul “Bab Raf’ul Ilmi wa Dzuhuril Jahli”. Kemudian dibawakan perkataan Rabi’ah rahimahullah:

لاَ يَنْبَغِي لِأَحَدٍ عِنْدَهُ شَيْءٌ مِنَ الْعِلْمِ أَنْ يُضَيِّعَ نَفْسَهُ

“Tidak layak bagi seseorang tatkala ia mengetahui sebagian dari ilmu , kemudian ia menyianyiakan dirinya.”[1]

Fawaaid :

1. Seseorang harus mengetahui kemampuan yang ia miliki. Sehingga dengan itu ia bisa bersikap sesuai dengan kapasitas yang dirinya mampu.

2. Perkataan ini mengajarkan kepada kita agar senantiasa memerhatikan apa yang kita miliki berupa ilmu.

3. Tidak boleh bagi seseorang untuk menyembunyikan ilmu yang ia miliki. Terlebih ilmu yang berkaitan tentang aqidah.

4. Ilmu itu adalah sesuatu yang mulia , maka orang yang berjalan bersama ilmu, minimal ia mendapatkan kemuliaan berjalan bersama ilmu.

5. Ilmu itu adalah sesuatu yang mulia , maka tak layak bagi seseorang untuk menyianyiakan dan merendahkan ilmu.

6. Tidak boleh bagi kita untuk menyianyiakan diri kita baik dengan tidak mengamalkan ilmu tersebut atau tidak menyampaikannya kepada orang lain.

7. Tidak menyampaikan ilmu kepada orang lain menyebabkan ilmu itu berhenti. Maka jangan jadikan ilmu itu berhenti di tangan kita. Namun alirkanlah ilmu itu agar bermanfaat dan terus hidup sehingga hidup pula pahalanya untuk kita.

8. Kalimat ini menunjukkan kepada kita agar percaya diri dengan tidak menyianyiakan kemampuan yang ada.

9. Ilmu itu akan memberikan manfaat kepada pemiliknya kapanpun dan dimanapun ia berada.

10. Hendaknya menuntut ilmu dengan ikhlas mengharapkan wajah Allah Ta’ala agar kita di permudah untuk mengamalkan ilmu tersebut. Dengan itulah kita akan masuk kedalam syurga.

11. Tatkala kita memiliki ilmu , maka ilmulah yang akan menjaga kita. Berbeda dengan harta, kita yang akan sibuk menjaganya.[2]

12. Sebarkanlah ilmu dengan cara apapun yang kita mampu. Bisa dengan menulis , menyampaikannya kepada orang lain , saling munaaqosyah (bertukar faidah) dengan teman kita dan cara cara yang lainnya. Karena kita tak akan tahu , bisa jadi goresan tinta yang sedikit itulah yang menjadi penyebab terbesar kita masuk kedalam syurga Allah Ta’ala. Maka sebarkanlah ilmu sesuai dengan kapasitasmu !!.

Wabillahit Taufiq.

Zia ‘Abdurrofi’

Makassar, 18 Juni 2020


[1]  Faidah ini saya dapatkan dari salah satu guru kami tatkala sedang mengajar dikelas. Jazzahullahu Khairol Jazaa’(semoga Allah membalas beliau dengan sebaik baik kebaikan) 

[2] Lihat Kitaabul ‘Ilmi oleh Syaikh Muhammad bin Shaalih Al Utsaimin rahimahullah.

Zia Abdurrofi

Alumnus Ma'had Aly Ulun Nuha Medan (Takhassus Bahasa Arab) dan Ma'had Minhajus Sunnah Bogor (4 tahun). Saat ini, aktif sebagai mahasiswa Jurusan Syari'ah di LIPIA Jakarta.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button