Aqidah

Mengenal Nama Allah Al-Halim

Terdapat sebuah kaidah yang menyatakan,

فَإِنَّ شَرَفَ الْعِلْمِ بِشَرَفِ الْمَعْلُومِ ، وَالْبَارِي أَشْرَفُ الْمَعْلُومَاتِ ؛ فَالْعِلْمُ بِأَسْمَائِهِ أَشْرَفُ الْعُلُومِ

“Sesungguhnya kemuliaan suatu ilmu sesuai dengan objek ilmu yang dipelajarinya, dan (mengetahui tentang) Al-Baari (Allah Ta’ala) adalah ilmu yang paling mulia, sehingga mengetahui nama-namaNya menjadi ilmu termulia.”

Artinya adalah semakin tinggi kedudukan dari topik yang dibahas oleh ilmu tersebut, maka semakin tinggi pula ilmu tersebut. Oleh karenanya ilmu agama adalah ilmu yang paling mulia, karena objek yang dipelajarinya adalah syariat Allah subhanahu wa ta’ala.

Terlebih mulia lagi jika objek yang dibahas adalah nama-nama dan sifat Allah subhanahu wa ta’ala. Allah Ta’ala telah berfirman,

وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Dan Allah memiliki Asma’ul-Husna (nama-nama yang terbaik), maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebutnya Asma’ul-Husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyalahartikan nama-nama-Nya. Mereka kelak akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-A’raf : 180)

Di antara sekian banyak nama-nama Allah Ta’ala yang terindah adalah Al-Halim. Setidaknya Allah menyebutkan sifat Al-Halim di dalam
Al-Qur’an sebanyak sebelas kali. Di antaranya firman Allah Ta’ala,

 وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ يَعۡلَمُ مَا فِيٓ أَنفُسِكُمۡ فَٱحۡذَرُوهُۚ وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌ حَلِيمٞ 

“Dan ketahuilah bahwasanya Allah Shubhanahu wa ta’alla mengetahui apa yang ada dalam hatimu; maka takutlah kepada -Nya, dan ketahuilah bahwa Allah Shubhanahu wa ta’alla Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.” (QS. Al-Baqarah:235)

Begitupun Nabi tercinta shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau ditimpa kesusahan beliau berdo’a,

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ الْعَظِيمُ الْحَلِيمُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ رَبُّ السَّمَوَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ

“Tidak ada Ilaah selain Allah yang maha Agung dan maha Halim (Penyantun), tidak ada Ilaah selain Allah Rabb pemilik ‘Arsy yang Agung, tidak ada Ilaah selain Allah Rabb langit dan bumi serta ‘Arsy yang mulia.” (Muttafaqun ‘Alaih)

Yang mana Al-Halim artinya adalah Allah Ta’ala Rabb yang Maha Penyantun, Rabb yang tidak segera memberi hukuman kepada hambanya yang melakukan kemasiatan, kekufuran, atau kesyirikan, akan tetapi Allah menunda adzab untuk mereka, karena barangkali mereka bisa sadar dan kembali kepada Allah Ta’ala, meskipun sangat mudah bagi Allah untuk menghukum mereka. Allah Ta’ala berfirman,

وَلَوْ يُؤَاخِذُ اللَّهُ النَّاسَ بِظُلْمِهِمْ مَا تَرَكَ عَلَيْهَا مِنْ دَابَّةٍ وَلَكِنْ يُؤَخِّرُهُمْ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ

“Dan kalau Allah menghukum manusia karena kezhalimannya, niscaya tidak akan ada yang ditinggalkan-Nya (di bumi) dari makhluk yang melata sekalipun, tetapi Allah menangguhkan mereka sampai waktu yang sudah ditentukan. Maka apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaat pun.” (QS. An-Nahl : 61)

Jika sekiranya setiap ada yang melanggar dan bermaksiat dihukum langsung oleh Allah, maka tidak akan ada yang tersisa di atas muka bumi. Akan tetapi Allah dengan sifatnya Al-Halim, menundanya sampai waktu yang Dia tentukan. Dan apabila telah datang waktu untuk mengazab mereka, maka tidak akan bisa ditunda dan dipercepat.

Di ayat yang lain Allah Ta’ala berfirman,

وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ ۚ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ الْأَبْصَارُ

“Dan janganlah sekali-kali kamu (Muhammad) mengira, bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak,” (QS. Ibrahim:42)

Ini semua menunjukkan sifat Al-Halim dari Allah Ta’ala. Sementara hamba-hambanya bermaksiat, hambanya berbuat syirik, Allah tetap memberi mereka kasih sayang, rezeki kesehatan, siapa tau dengan itu mereka bisa sadar dan kembali.

Sebagai contoh, Fir’aun yang begitu membangkang kepada Allah, bahkan mengaku dirinya sebagai tuhan, akan tetapi Allah mengutus Nabi Musa dan Nabi Harun ‘alaihimassalam agar dia sadar. Allah Ta’ala berfirman,

اذْهَبَا إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى  فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى

“Pergilah kamu berdua kepada Fir‘aun, karena dia benar-benar telah melampaui batas, maka berbicaralah kamu berdua kepadanya (Fir‘aun) dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut.” (QS. Taha : 43-44)

Lihatlah betapa kejamnya Fir’aun, akan tetapi Allah membalasnya penuh kebaikan dengan mengirimkan Nabi Musa dan Nabi Harun ‘alaihimassalam. Namun jika saatnya Allah tahu bahwasanya tidak lagi bermanfaat penundaan hukuman tersebut bagi hamba-hambanya, maka Allah akan kirimkan hukuman yang pantas bagi mereka.

Lihat pula bahwa betapa banyak hamba-hamba Allah yang mengatakan bahwa Allah adalah Dzat yang memiliki anak. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا أَحَدٌ أَصْبَرَ عَلَى أَذًى يَسْمَعُهُ مِنَ اللهِ تَعَالَى، إِنَّهُمْ يَجْعَلُونَ لَهُ نِدًّا وَيَجْعَلُونَ لَهُ وَلَدًا وَهُوَ مَعَ ذَلِكَ يَرْزُقُهُمْ وَيُعَافِيهِمْ وَيُعْطِيهِمْ

“Tidak ada siapa pun yang lebih bersabar atas gangguan yang ia dengar melebihi Allah Ta’ala, mereka membuat tandingan untuknya dan menganggapNya punya anak, meski demikian Ia memberi mereka rizki, memaafkan dan memberi mereka.” (Muttafaqun ‘alaih)

Kalaulah bukan karena penyantun dan maha mengampuni yang dimiliki oleh Allah, tentulah dunia beserta langit ini akan bergoncang karena sebab maksiat yang dilakukan oleh hamba-hambaNya. Sebagaimana yang Allah firmankan,

إِنَّ ٱللَّهَ يُمۡسِكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ أَن تَزُولَاۚ وَلَئِن زَالَتَآ إِنۡ أَمۡسَكَهُمَا مِنۡ أَحَدٖ مِّنۢ بَعۡدِهِۦٓۚ إِنَّهُۥ كَانَ حَلِيمًا غَفُورٗا

“Sesungguhnya Allah Shubhanahu wa ta’alla menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap; dan sungguh jika keduanya akan lenyap tidak ada seorangpun yang dapat menahan keduanya selain Allah. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (QS.Faathir: 41)

Tatkala Allah memiliki sifat Al-Halim, maka Allah juga menyukai hamba-hambaNya yang memiliki sifat tersebut. Oleh karenanya Allah  memuji sebagian hamba-hambanya dengan sifat al-Hilm seperti Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ إِبْرَاهِيمَ لَحَلِيمٌ أَوَّاهٌ مُنِيبٌ

Ibrahim sungguh penyantun, lembut hati dan suka kembali (kepada Allah)..” (QS. Hud : 75-76)

Dan dalam ayat lain Nabi Ibrahim ‘alaihissalam disebutkan oleh Allah Ta’ala,

إِنَّ إِبْرَاهِيمَ لَأَوَّاهٌ حَلِيمٌ

Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun.” (QS. At-Taubah : 114)

Lihatlah bagaimana sifat pemaafnya Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, meskipun beliau diganggu, beliau dibenci dan dimusuhi penduduk satu negeri, mereka menangkapnya sekaligus melepaskan bajunya, kemudian dinyalakan api dengan nyala yang sangat besar, bahkan disebutkan bahwa belum pernah ada pada zaman itu api yang dinyalakan sebesar api yang hendak digunakan untuk membakar Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, kemudian beliau dilemparkan ke dalam api, akan tetapi beliau tidak pernah meminta kepada Allah untuk menurunkan adzab bagi kaumnya.

Begitu juga tatkala Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dimusihi dan diusir oleh ayahnya. Allah Ta’ala berfirman tentang perkataan ayah beliau,

قَالَ أَرَاغِبٌ أَنْتَ عَنْ آلِهَتِي يَاإِبْرَاهِيمُ لَئِنْ لَمْ تَنْتَهِ لَأَرْجُمَنَّكَ وَاهْجُرْنِي مَلِيًّا

Dia (ayahnya) berkata, “Bencikah engkau kepada tuhan-tuhanku, wahai Ibrahim? Jika engkau tidak berhenti, pasti engkau akan kurajam, maka tinggalkanlah aku untuk waktu yang lama.”(QS. Maryam : 46)

Akan tetapi dengan dikatakan begitu, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam menjawab dengan sangat santun,

قَالَ سَلَامٌ عَلَيْكَ سَأَسْتَغْفِرُ لَكَ رَبِّي إِنَّهُ كَانَ بِي حَفِيًّا

Dia (Ibrahim) berkata, “Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan memohonkan ampunan bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku.” (QS. Maryam : 47)

Lihatlah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, beliau tidak membalas gangguan yang beliau terima dengan kata-kata yang buruk, tidak pula dengan doa keburukan. Padahal kalau beliau ‘alaihissalam mau, maka beliau bisa berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala untuk menimpakan keburukan kepada mereka tatkala itu juga. Akan tetapi beliau tidak melakukannya.

Maka sebagaimana Allah memiliki sifat Al-Halim dan menyukai sifat tersebut, yaitu mampu memberi hukuman namun diberikan tenggang waktu agar bisa sadar dan kembali kepada Allah, maka hendaknya manusiapun demikian. Janganlah manusia cepat naik pitam dan marah, karena sesungguhnya sifat marah, mudah terprovokasi, adalah sifat yang buruk. Dan sebaliknya, sifat yang terbaik adalah Al-Halim.

Faidah dari mengetahui sifat Allah Ta’ala Al-Halim:

– Sebagai seorang hamba kita menyadari betapa seringnya melanggar perintah Allah dan larangannya, namun Allah Ta’ala tetap memberikan kesehatan, rezeki, dan lain sebagainya. Hal ini hendaknya menumbuhkan rasa cinta dan Syukur kepada Allah Ta’ala yang tidak langsung mengazab hambanya ketika melakukan kemaksiatan.

Sekaligus menumbuhkan rasa takut pada diri seorang hamba, barangkali tatkala ia sedang melakukan kemaksiatan, atau setelah melakukan kemaksiatan, azab Allah akan menimpanya.

– Dengan mengetahui sifat Allah Al-Halim seorang hamba diberikan kesempatan untuk segera bertaubat dari kemaksiatannya dan tidak berputus asa dari Rahmat Allah Ta’ala. Karena sejatinya penundaan azab adalah kesempatan emas yang Allah karuniakan kepada hamba-hambaNya, agar hambaNya kembali bersimpun di hadapan Allah, memohon ampunan sebelum ajal menjemput.

– Mengetahui sifat Allah Al-Halim dapat menghiasi seseorang dengan akhlak mulia, mendorong seorang hamba untuk memiliki pribadi yang pemaaf. Sebagaimana sifat yang dimiliki oleh Khalilullah Ibrahim ‘alaihissalam.

Wallahu’alam

Depok, 15 Syawwal 1447H/04 April 2026

Zia Abdurrofi

Alumnus Ma'had Aly Ulun Nuha Medan (Takhassus Bahasa Arab) dan Ma'had Minhajus Sunnah Bogor (4 tahun). Saat ini, aktif sebagai mahasiswa Jurusan Syari'ah di LIPIA Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button