
Sebagai seorang hamba, tidak lah kita hidup kecuali memilih salah satu dari dua pilihan, antara menjadi pembuka pintu-pintu kebaikan atau menjadi pembuka pintu-pintu keburukan. Dalam hadits Anas bin Malik radiyallahu ‘anhu Nabi kita yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ مِنَ النَّاسِ مَفَاتِيحُ لِلْخَيْرِ، مَغَالِيْقُ لِلشَّرِ، وَإِنَّ مِنَ النَّاسِ مَفَاتِيْحُ لِلشَّرِّ، مَغَالِيقُ لِلْخَيْرِ، فَطُوْبَى لِمَنْ جَعَلَ اللهُ مَفَاتِيحَ الخَيْرِ عَلَى يَدَيْهِ، وَوَيْلٌ لِمَنْ جَعَلَ الله مَفَاتِيْحَ الشَّرِّ عَلَى يَدَيْهِ
“Sesungguhnya di antara manusia ada yang menjadi pembuka pintu-pintu kebaikan penutup pintu-pintu keburukan, adapula di antara manusia yang menjadi pembuka pintu-pintu keburukan dan penutup pintu-pintu kebaikan. Maka beruntunglah orang-orang yang Allah Ta’ala jadikan pintu-pintu kebaikan terbuka dengan tangannya dan celakalah bagi orang-orang yang Allah Ta’ala jadikan pintu-pintu keburukan terbuka dengan tangannya.” (HR. Ibnu Majah no.237 dan Ibnu Abi ‘Ashim no.297)
Karenanya, beruntunglah orang-orang yang Allah Ta’ala berikan kunci pembuka pintu kebaikan berada di tangannya. Sehingga seharusnya ia terus bersemangat untuk menjadi pembuka pintu-pintu kebaikan dan tidak lelah dalam berbuat kebaikan.
Tidak ada satupun manusia yang mengetahui dengan sebab apa ia akan masuk ke dalam surga, bisa jadi karena kebaikan yang dia amalkan terus menerus. Dan jangan pernah remehkan kebaikan walaupun kecil. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لا تحْقِرَنَّ من المعرُوفِ شيْئًا ، ولوْ أنْ تلْقَى أخاكَ بوجْهٍ طلْقٍ
“Janganlah kalian meremehkan kebaikan sedikitpun, kendati engkau bertemu dengan saudaramu dengan wajah yang berseri-seri.” (HR. Muslim 2626)
Perhatikanlah sebuah kisah yang menarik, Allah Ta’ala sebutkan dalam surat Yasin. Allah Ta’ala berfirman,
وَاضْرِبْ لَهُمْ مَّثَلًا اَصْحٰبَ الْقَرْيَةِ اِذْ جَاۤءَهَا الْمُرْسَلُوْنَ اِذْ اَرْسَلْنَآ اِلَيْهِمُ اثْنَيْنِ فَكَذَّبُوْهُمَا فَعَزَّزْنَا بِثَالِثٍ فَقَالُوْٓا اِنَّآ اِلَيْكُمْ مُّرْسَلُوْنَ
“Buatlah suatu perumpamaan bagi mereka (kaum kafir Makkah), yaitu penduduk suatu negeri, ketika para utusan datang kepada mereka,(yaitu ketika Kami mengutus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan keduanya. Kemudian Kami menguatkan dengan (utusan) yang ketiga. Maka, ketiga (utusan itu) berkata, “Sesungguhnya kami adalah orang yang diutus kepadamu.” (QS. Yasin:13-14)
Kemudian penduduk suatu negeri itu berkata,
قَالُوْا مَآ اَنْتُمْ اِلَّا بَشَرٌ مِّثْلُنَا وَمَآ اَنْزَلَ الرَّحْمٰنُ مِنْ شَيْءٍ اِنْ اَنْتُمْ اِلَّا تَكْذِبُوْنَ
“Mereka (penduduk negeri) menjawab, “Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami. (Allah) Yang Maha Pengasih tidak (pernah) menurunkan sesuatu apa pun. Kamu hanyalah berdusta.” (QS. Yasin:15)
Kemudian puncaknya mereka berkata,
قَالُوْٓا اِنَّا تَطَيَّرْنَا بِكُمْ لَىِٕنْ لَّمْ تَنْتَهُوْا لَنَرْجُمَنَّكُمْ وَلَيَمَسَّنَّكُمْ مِّنَّا عَذَابٌ اَلِيْمٌ
“Mereka (penduduk negeri) menjawab, “Sesungguhnya kami bernasib malang karenamu. Sungguh, jika kamu tidak berhenti (menyeru kami), niscaya kami merajam kamu dan kamu pasti akan merasakan siksaan yang pedih dari kami.” (QS. Yasin: 18)
Hingga pada akhirnya datanglah seorang laki-laki dari ujung kota, yang menurut sebagian Ahli Tafsir nama laki-laki tersebut adalah Habib An-Najjar. Allah Ta’ala berfirman,
وَجَاۤءَ مِنْ اَقْصَا الْمَدِيْنَةِ رَجُلٌ يَّسْعٰى قَالَ يٰقَوْمِ اتَّبِعُوا الْمُرْسَلِيْنَ اتَّبِعُوْا مَنْ لَّا يَسْـَٔلُكُمْ اَجْرًا وَّهُمْ مُّهْتَدُوْنَ
“Datanglah dengan bergegas dari ujung kota, seorang laki-laki. Dia berkata, “Wahai kaumku, ikutilah para rasul itu! Ikutilah orang yang tidak meminta imbalan (dalam berdakwah) kepadamu. Mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Yasin:20-21)
Perhatikanlah, di sini hanya satu orang laki-laki yang datang dari ujung kota untuk mengabarkan kepada kaumnya agar mengikuti para Rasul. Namun justru kaumnya enggan dan menolak seruan dan ajakan dari para Rasul ‘alaihimussalam.
Sampai pada akhirnya Allah Ta’ala berfirman,
قِيْلَ ادْخُلِ الْجَنَّةَ قَالَ يٰلَيْتَ قَوْمِيْ يَعْلَمُوْنَ بِمَا غَفَرَ لِيْ رَبِّيْ وَجَعَلَنِيْ مِنَ الْمُكْرَمِيْنَ
“Dikatakan (kepadanya), “Masuklah ke surga.”) Dia (laki-laki itu) berkata, “Aduhai, sekiranya kaumku mengetahui, (bagaimana) Tuhanku mengampuniku dan menjadikanku termasuk orang-orang yang dimuliakan.” (QS. Yasin: 26-27)
Jikalau ingin diperhatikan dengan seksama, laki-laki tersebut bukanlah orang yang masyhur (terkenal), orang yang biasa datang dari pelosok kota, ia hanya mengatakan “Ikutilah para Rasul”.
Orang ini bukanlah Nabi, bukan pula Rasul. Ia hanya orang biasa dan membantu untuk mendakwahkan kaumnya. Maka ia pun Allah balas dengan surga yang begitu indah.
Oleh karena itu, semangatlah dalam berbuat kebaikan. Jangan lelah dalam berbuat baik. Karena syaithon tidak pernah berhenti untuk menyesatkan anak adam. Maka selama syaithon masih terus-menerus menyesatkan anak adam, maka selama itu pula jangan berhenti dan lelah dalam berbuat baik.!
Wallahu ‘alam
Semoga bermanfaat
Zia Abdurrofi
Depok, 9 Sya’ban 1447 H/28 Januari 2026 M



