
Agama kita adalah agama yang dibangun di atas ilmu, dan hampir seluruh ilmu yang terdapat dalam agama kita, tertuang dalam bentuk tulisan-tulisan yang ditorehkan oleh para ulama. Sehingga tidak tersisa sedikitpun ilmu, melainkan sudah termaktub baik dalam Al Qur’an, As Sunnah, dan kitab-kitab para ulama.
Bahkan seluruh perkara agama telah dijelaskan di dalam Al Qur’an dan juga As Sunnah. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
مَا بَقِيَ شَيْءٌ يُقَرِّبُ مِنَ الْجَنَّةِ وَيُبَاعِدُ مِنَ النَّارِ إِلاَّ وَ قَدْ بُيِّنَ لَكُمْ
“Tidak tersisa sedikitpun, yang mendekatkan kepada surga dan menjauhkan dari api neraka melainkan telah dijelaskan kepada kalian.” (Lihat Silsilah Al Ahadits As Shahihah No : 1803)
Itu artinya semua ajaran tentang agama kita baik yang bersifat aqidah, fiqh, manhaj, dan lain sebagainya. Telah dijelaskan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Sehingga para ulama begitu semangat untuk menorehkan tinta-tinta emas mereka yang berisikan penjelasan tentang Kalamullah dan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Tak sedikit dari para ulama yang menulis tulisan mereka di sisa-sisa kertas, pelepah kurma, batu, kayu dan lain lain. Itu semua berangkat dari semangat mereka yang membara untuk mengangkat dan mengagungkan agama ini.
Syaikh Al Albani rahimahullah tidak perlu jauh-jauh kita melihat. Beliau wafat di abad ke-20. Kala itu, beliau meminta murid beliau Syaikh Masyhur Hasan Salman hafidzahullah untuk meneliti tulisan beliau yaitu Silsilah Al Ahaadits Adh-Dha’ifah. Seketika murid beliau (Syaikh Masyhur) menangis. Bukan menangis karena kehebatan Syaikh Al Albani guru beliau. Bukan !
Beliau menangis karena melihat tulisan-tulisan Syaikh Al Albani berada di sisa-sisa kertas bekas. Kertas-kertas buangan yang sudah tidak terpakai. Dikatakan bahwa beliau menulis di kertas kalender yang sudah tidak terpakai.
Demikianlah semangat para ulama dalam menjaga ilmu agama ini, demikainlah semangat para ulama untuk meninggikan agama kita ini.
Lantas apa yang membuat kita malas untuk membaca ? Sedangkan kebanyakan ilmu itu butuh untuk dibaca. Bukankah ayat yang pertama kali turun adalah perintah untuk membaca ? Sudahkah kita membaca Al Qur’an ? mentadabburinya ? merenungi makna-maknanya ? Jika kita membaca kisah para ulama, kita akan mendapati semangat tinggi mereka dalam membaca. Diantaranya kisah Ibnu Hajar ‘Al Asqolani rahimahullah, yang diceritakan langsung oleh muridnya As Sakhowi rahimahullah.
إنما كانت همته المطالعة والقراءة، والسماع والعبادة، والتصنيف والإفادة، بحيث لم يكن يخلي لحظة من أوقاته عن شيء من ذالك، حتى حال أكله وتوجهه وهو سالك.
وقد سمعته يقول غير مرة : إنني لأتعجب ممن يجلس خالياً عن الاشتغال
“Kesibukan Ibnu Hajar hanya sebatas pada menelaah, membaca, mendengar, ibadah, menulis, memberikan faidah. Yang mana tidak ada satu waktu pun yang kosong dari hal-hal tersebut. Bahkan sampai ketika beliau makan dan sedang berpegian dengan berjalan.”
dan aku pernah mendengar beliau berkata lebih dari sekali : “Sungguh aku benar-benar heran dengan orang yang hanya duduk, kosong dari kesibukan.” (Lihat : Al Jawaahir wad Duror 1/170 Cet. Dar Ibnu Hazm dan Al Musyawwiq Ilal Qiro’ah wat Tholab)
Jadikanlah buku sebagai teman, karena buku adalah teman yang tidak pernah berkhianat. Teman yang selalu memberikan manfaat, dan teman yang tidak pernah menyakiti hati kita. Kita tidak akan pernah kecewa berteman dengannya, dan ia tidak akan pernah berhenti untuk memberikan manfaat kepada kita.
Mudah-mudahan hal ini membuat kita semakin semangat untuk membaca dan mempelajari agama kita.
Semoga bermanfaat
Wallahul Muwaffiq
Zia Abdurrofi
Bogor, 10 Januari 2023/17 Jumadal Akhiroh 1444




